Asa dari Desa

Setelah sekian lama, sekitar 12 tahun lamanya kalau saya tidak salah ingat, saya kembali menginjak lapangan ini. Lapangan Kridatama namanya, terletak di Kecamatan Bagelen.  Di sini 12 tahun yang lalu, saya berlaga untuk pertama kalinya semenjak bergabung bersama salah satu SSB ternama di Purworejo. Tapi kali ini berbeda maksud, karena saya datang ke sini untuk menonton turnamen antar desa yang sudah digelar rutin tiap tahunnya.

Benar adanya sepertinya yang banyak orang bilang, sepak bola adalah olahraga rakyat, olahraga yang merakyat. Bukti nyata bisa diperoleh kalau kita datang ke lapangan yang ada di desa. Setiap sore harinya kita bisa dengan gratis menyaksikan putra-putra desa bermain bola, dari yang masih anak-anak hingga yang tua pun. Ya, sepak bola menjadi hal yang murah dan mudah bagi mereka yang ada di desa. Asal ada lapangan dan bola saja sepak bola sudah bisa dimainkan, tak perlu sepatu.

Bermain sepak bola dengan kaki telanjang memang sudah menjadi kebiasaan mereka sehari-hari.  Saya jadi ingat beberapa tahun lalu ketika masih usia sekolah, hampir setiap sore saya bermain sepak bola di lapangan kecil, lapangan satu-satunya yang ada di desa. Begitu menyenangkan, malah seperti tak punya lelah. Tapi itu dulu, kini hal itu sudah mulai menghilang. Terjadi pergeseran dalam beberapa tahun belakangan ini. sepak bola dengan kaki telanjang mulai “ditinggalkan”. Ada beberapa hal yang menjadi sebab.

Pertama, sepak bola dengan kaki telanjang benar-benar ditinggalkan dengan banyaknya pemuda desa yang merantau. Sebagian besar mereka yang baru lulus SMA/SMK memilih pergi ke luar kota baik itu untuk bekerja maupun melanjutkan pendidikan. Di samping itu, merebaknya olahraga futsal turut andil di dalamnya. Dewasa ini, banyak yang cenderung lebih memilih bermain di atas sebidang beton daripada harus berkotor-kotoran di tanah lapang. Apalagi kalau harus dengan kaki telanjang. Contoh nyatanya tidak jauh, dekat sekali malah, di desa tempat saya berada.

Kedua, ditinggalkannya sepak bola dengan kaki telanjang atau yang lebih sering dikenal istilah “nyeker” ini karena sebagian besar mereka yang suka bermain sepak bola sudah memiliki sepatu. Dari anak-anak hingga yang tua. Apalagi dengan munculnya banyak SSB dan klub di Purworejo yang secara tidak langsung menuntut mereka untuk punya sepatu sepak bola. Tak hanya sampai di situ, di desa-desa pun kini makin banyak yang membentuk tim sepak bola. Digulirkannya turnamen antar-desa menjadi penyebabnya. Turnamen tarkam, istilah kerennya.

Turnamen tarkam memang sudah menjadi hal yang rutin di Purworejo dalam beberapa tahun belakangan ini. Ya, benar-benar antar kampung karena kebanyakan turnamen yang digelar hanya mencakup satu kecamatan dengan mempertemukan tim-tim sepak bola desa-desa yang ada di wilayahnya. Pemainnya pun dibatasi dengan harus berasal dari kecamatan tersebut dan tidak boleh menggaet pemain dari luar kecamatan apalagi luar kota.

Beberapa turnamen tingkat kecamatan mulai rutin digelar memasuki tahun 2010-an di Purworejo. Salah satunya seperti yang saya tonton kemarin, Kridatama Cup di Kecamatan Bagelen. Tahun ini dengan peserta 12 tim dari 12 desa adalah edisi keempat semenjak diadakan pada tahun 2011. Dan ini menjadi kesempatan pertama saya bisa menonton langsung di sana. Kebetulan waktunya  pas pada hari pertama turnamen dimulai, pas pembukaan.

Saya berangkat dari rumah sekitar jam tiga sore. Saya berangkat lebih awal karena cukup jauh jaraknya kalau diukur dari desa tempat saya tinggal. Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, sampailah saya di sana. Sampai di sana lapangan masih sepi karena laga belum dimulai dan para pemain pun belum datang, sementara para panitia yang berada di sebelah barat lapangan sedang sibuk bersiap membuka turnamen.

Selang beberapa menit, acara pun dimulai. Seperti acara-acara pembukaan pada umumnya, terlebih dahulu diadakan acara seremonial mulai dari sambutan-sambutan hingga pembukaan resmi secara simbolis dengan pemukulan bedug. Acara pembukaan ditutup dengan bunyi letusan beberapa petasan yang ternyata sudah disiapkan oleh panitia. Dhuar! Cukup membuat saya kaget.

Lagu kebangsaan Indonesia Raya tak ketinggalan dinyanyikan bersama-sama panitia dan pemain sebelum pertandingan dimulai. Lagu yang sebenarnya jarang sekali dinyanyikan pada turnamen-turnamen seperti ini, apalagi ini tingkat kecamatan. Atau karena sang pencipta berasal dari Purworejo hingga Indonesia Raya turut dikumandangkan di sana? Setidaknya ini menjadi bukti bahwa semangat nasionalisme masih melekat di desa-desa yang jauh dari keramaian dan kemajuan teknologi di kota-kota besar sana.

Pertandingannya sendiri berjalan cukup menarik, tempo permainan cukup tinggi. Hanya saja kualitas pemain tim satu dengan satunya timpang. Putra Dadirejo jauh lebih unggul atas SSFC Somorejo, dua tim yang bertanding sore itu. Hal itu pun dibuktikan pemain-pemain Dadirejo dengan empat gol yang mereka cetak. Ya, Dadirejo memiliki pemain-pemain yang kualitas individualnya termasuk bagus, apalagi lini depan mereka. Pemain mereka yang bernomor punggung 17, 14, dan 7 sukses mengobrak-abrik pertahanan Somorejo. Sementara Somorejo hanya memiliki satu pemain yang menonjol kualitasnya dibanding yang lain, nomor 7, pemain tengah. Seolah dia bermain sendirian di tengah dan kawan-kawannya tidak banyak membantu, permainan mereka pun buntu.

Bicara soal pemain sepak bola yang berbakat dan berkualitas, atau kata sederhananya bisa bermain sepak bola, banyak sekali sebenarnya. Pemain-pemain dari dua tim yang bertanding sore itu sebagai sampelnya. Ya, setiap desa setidaknya pasti memiliki satu pemain yang bertalenta, menonjol dibanding teman-temannya. Lalu hitunglah, ada berapa banyak desa yang ada? Banyak. Banyak pula akhirnya jumlah pemain-pemain yang bertalenta itu. Sayangnya kembali lagi, mereka  jarang atau bahkan tidak pernah mendapat kesempatan untuk merasakan pelatihan yang bagus dan juga kompetisi yang kompetitif. Andai saja.. tapi ya beginilah kondisinya.

Syukurnya, turnamen-turnamen antar desa sekarang ini mulai rutin digelar. Turnamen yang menjadi tempat mereka sekadar unjuk kebolehan kepada teman-temannya atau masyarakat sekitarnya.  Boro-boro bisa dilihat orang luar kota, bahkan oleh pengampu organisasi sepak bola di tingkat kabupaten pun tidak. Mereka entah kemana, bisa-bisanya selama tiga tahun belakangan ini kepengurusan vakum. Imbasnya, kompetisi internal yang seharusnya bisa menjadi wadah para pemain Purworejo tak jalan. Mengesankan.

Maka dari itulah, kembali harus bersyukur dengan adanya turnamen-turnamen di tingkat kecamatan ini. Turnamen yang menjadi tempat mereka yang ada di desa mempertahankan asa untuk tetap bersepak bola. Turnamen yang bisa menjadi hiburan yang murah dan meriah bagi masyarakat sekitar, dari yang tua hingga yang masih balita, laki-laki maupun perempuan.
Tak percaya? Kenapa tidak kalian menontonnya langsung ke sana?

COMMENTS

Name

berita,38,cerita,9,feature,8,gajolpedia,1,junior,12,lapangan,1,liga,10,piala,36,popda,14,sekolah,16,
ltr
item
Liga Purworejo: Asa dari Desa
Asa dari Desa
Liga Purworejo
https://www.ligapurworejo.com/2014/09/asa-dari-desa.html
https://www.ligapurworejo.com/
https://www.ligapurworejo.com/
https://www.ligapurworejo.com/2014/09/asa-dari-desa.html
true
3839769512909484316
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy